by

Pandemi COVID-19 Berdampak pada Kesejahteraan Anak-Anak di Indonesia

JAKARTA – Indonesia pertama mengumumkan pasien pertama dan kedua COVID-19 pada 2 Maret 2020. Lebih dua bulan sejak diumumkan, kini jumlah pasien positif Corona di Indonesia mencapai 14.032 kasus.

Pemerintah pun telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi aktivitas sosial. Dimulai berkala dengan meliburkan sekolah dan membuat aturan learn from home, lalu work from home, dan kini membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi aktivitas sosial warga.

Meski PSBB tak hanya berdampak pada orang dewasa. Tapi juga terhadap anak-anak. Mereka tak hanya berdampak secara kesehatan, tapi juga sosial, ekonomi dan pendidikan. UNICEF Indonesia melakukan penelitian tentang dampak non kesehatan dari COVID-19 bagi anak-anak di Indonesia.

Angga Dwi Matra, Spesialis Kebijakan Sosial UNICEF mengatakan dampak Covid-19 terhadap anak-anak memang tak besar secara kesehatan, namun anak juga menanggung dampak lain, yaitu dampak sosial dan ekonomi. Menurut hasil penelitian UNICEF, pemberlakuan PSBB berdampak besar pada penghasilan pekerja sektor informal.

Padahal pekerja ini juga memiliki keluarga. Turunnya penghasilan kepala keluarga memberi pengaruh langsung pada kesejahteraan anak.

“Ada tiga krisis yang terjadi terkait kondisi tersebut. Pertama adalah krisis kemiskinan anak, kedua adalah krisis gizi, dan ketiga adalah krisis pembelajaran,” ujar Angga yang ia sampaikan dalam Diskusi Online seri #1 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan UNICEF, Senin, 11 Mei 2020.

Dalam diskusi mengambil tema besar “Dampak Sosial Ekonomi COVID-19 pada Anak-Anak di Indonesia”, Angga menuturkan, saat ini hanya 52 juta penduduk di Indonesia yang bisa dianggap memiliki pendapatan yang aman. Sementara sebagian besar dari 115 juta penduduk Indonesia yang diklasifikasikan sebagai “calon kelas menengah” (istilah yang baru-baru ini diperkenalkan oleh Bank Dunia) termasuk
sangat rentan.

PSBB yang sedang diperlakukan membuat “calon kelas menengah” kehilangan penghasilan. Kehilangan pendapatan rumah tangga yang terjadi secara tiba-tiba menimbulkan ketidakstabilan situasi ekonomi keluarga dan dapat berujung pada kemiskinan.

Mengutip proyeksi Bappenas, Angga menuturkan bahwa kemungkinan
penduduk Indonesia jatuh miskin naik menjadi 55 persen, dengan sekitar 27 persen calon kelas menengah diperkirakan mengalami ketidakamanan pendapatan yang menghawatirkan.

“Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan makanan sehat. Survei daring menunjukkan bahwa kebutuhan pangan semakin tidak aman: 36 persen dari responden menyatakan bahwa mereka “sering kali” mengurangi porsi makan karena masalah keuangan,” ujar Angga menambahkan.

Krisis lain yang dihadapi adalah krisis pembelajaran. Saat ini, lebih dari 120 negara telah memberlakukan pembatasan interaksi sosial melalui penutupan sekolah yang berdampak pada jutaan siswa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan belajar dari rumah sejak Maret lalu, Penutupan sekolah dapat memperburuk kesenjangan akses pendidikan. Siswa miskin dan rentan merupakan pihak paling terdampak oleh penutupan sekolah. Pendidikan mungkin tidak menjadi prioritas utama, karena sering kali harus bersusah payah memenuhi kebutuhan dasar.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed